Capek Urus Rumah, Eh Ketambahan Anak Tetangga
Sumber X: Cerita oleh @SeputarTetangga, tayang atas izin
"Ya Bu, nggak apa-apa, curahkan saja di sini." Begitu admin menyambut curhatan seorang [disamarkan]. Sehari-hari sudah beberes, mencuci, menyiapkan MPASI, mengurus anak sendiri. Eh, masih ketambahan anak tetangga yang ikut nongkrong di rumah.
Kenapa ramai? Karena pekerjaan [disamarkan] sering dianggap ringan, seolah-olah selalu ada waktu luang. Akibatnya, rumah IRT sering jadi tempat penitipan tak resmi. Banyak [disamarkan] komentar yang merasa terwakili dan bercerita soal anak tetangga yang datang dari pagi sampai sore.
Dari sisi tetangga, mungkin anaknya sendiri yang suka main ke sana, bukan sengaja dititipkan. Atau orang tuanya sedang bekerja dan berpikir "kan cuma main". Tapi dari sisi si ibu, satu anak tambahan berarti tambahan perhatian, tambahan beres-beres. Gimana cara menolak dengan sopan tanpa merusak hubungan baik?
Setiap cerita tetangga selalu punya dua sisi, dan sering kali dua-duanya sama-sama punya alasan. Justru dari obrolan seperti ini kita bisa belajar jadi tetangga yang lebih peka dan lebih adil. Yuk, ramaikan kolom komentar! Kamu ada di pihak mana, dan pernah ngalamin yang mirip? Siapa tahu ceritamu bisa jadi solusi buat tetangga lain. Seputar Tetangga, Solving Problems Together.
+ Kirim cerita